Jumat, 08 November 2013

Penyebab Autisme

 

   Sampai saat ini para ahli masih melakukan penelitian mengenai penyebab utama autisme. Menurut para ahli, penyebab autisme sampai saat ini masih multifaktor. Berikut adalah beberapa hal yang dapat menjadi pemicu atau pencetus autisme:


1. Gangguan Susunan Saraf Pusat (SSP)
  • Pada Masa Kehamilan
    Di masa kehamilan, gangguan SSP yang dapat menimbulkan autisme adalah infeksi virus, jamur, kuman, perdarahan pada hamil muda, sakit berat, anemia dan keracunan.
  • Pada Masa Bayi atau Anak-anak
    Kemungkinan terjadinya gangguan SSP adalah akibat alergi, gangguan pencernaan, keracunan logam berat (Cd, Hg, Pb) dan jamur yang tumbuh berlebihan dalam saluran pencernaan.
2. Proses Kelahiran
Proses kelahiran yang sulit sehingga bayi kekurangan oksigen, trauma kepala bayi, leher bayi terlilit tali pusat, dan tersedak air ketuban ternyata dapat menjadi salah satu penyebab autisme. Hal inilah yang dianggap potensial menimbulkan gangguan Sistem Saraf Pusat (SSP).
3. Mutasi Genetik
Telah ditemukan lebih dari tujuh gen yang berhubungan dengan autisme. Tapi, perlu beberapa gen untuk menimbulkan gejala autism
4. Keracunan Logam Berat
Keracunan logam berat, merkuri dan timbal hitam
5. Vaksinasi
Jenis vaksin yang mengandung thimerosal atau merkuri
Namun begitu timbulnya gejala autisme sangat kompleks dan tidak mungkin hanya mempunyai satu penyebab atau pencetus saja.





Sumber: Dr. Melly Budhiman, Sp.KJ, Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI), Psikiater anak menangani anak autisme, dan mendalami intervensi biomedis

Perkembangan Penelitian Autisme


Penelitian mengenai autisme pertama kali diprakarsai oleh seorang psikater asal Amerika Serikat,Leo Kanner, di tahun 1943. Melalui makalah risetnya yang berjudul "Autistic Disturbances of Affective Contact", Kanner mendiagnosa sebelas orang anak yang memiliki gangguan yang sama dan mendeskripsikannya sebagai "autisme". Pada masa itu, anak-anak penderita autisme dianggap sebagai anak yang bodoh dan terbelakang bukan sebagai anak yang mengalami gangguan perkembangan. Hasil penelitian yang dilakukan Kanner ini kemudian menjadi titik tolak perkembangan penelitian autisme serta perubahan pandangan masyarakat terhadap anak-anak yang menderita autisme.
Tahun 1960 penanganan anak dengan autisme secara umum didasarkan pada model psikodinamika, menawarkan harapan akan pemulihan melalui experiential manipulations (Rimland, 1964). Namun demikian model psikodinamika dianggap tidak cukup efektif. Pada pertengahan tahun 1960-an, terdapat sejumlah laporan penelitian bahwa pelaku psikodinamik tidak dapat memberikan apa yang mereka janjikan (Lovaas, 1987). Melalui berbagai literatur, dapat disebutkan beberapa ahli yang memiliki perbedaan filosofis, variasi-variasi treatment dan target-target khusus lainnya, seperti:
  • Rimland (1964): Meneliti karakteristik orang tua yang memiliki anak dengan autisme, seperti: pekerja keras, pintar, obsesif, rutin dan detail. Ia juga meneliti penyebab autisme yang menurutnya mengarah pada faktor biologis..
  • Bettelheim (1967): Ide penyebab autisme adalah adanya penolakan dari orang tua. Infantile Autism disebabkan harapan orang tua untuk tidak memiliki anak, karena pada saat itu psikoterapi yang sangat berpengaruh, maka ia menginstitusionalkan 46 anak dengan autistime untuk keluar dari stress berat. Namun tidak dilaporkan secara detail kelanjutan dari hasil pekerjaannya tersebut.
  • Delacato (1974): Autisme disebabkan oleh Brain injured. Sebagai seorang Fisioterapi maka Delacato memberikan treatment yang bersifat sensoris. Pengaruh ini kemudian berkembang pada Doman yang dikemudian hari mengembangkan metode Glen Doman.
  • Lovaas (1987): Mengaplikasikan teori Skinne dan menerapkan Behavior Modification kepada anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan autistisme di dalamnya. Ia membuat program-program intervensi bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang dilakukannya di UCLA. Dari hasil program-program Lovaas, anak-anak dengan autisme mendapatkan program modifikasi perilaku yang kemudian berkembang secara professional dalam jurnal-jurnal psikologi.




http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

Terapi dan Kesembuhan

  
 Setelah mengenal jenis terapi yang biasa diberikan kepada anak-anak penyandang autism, perlu untuk diperhatikan bahwa walaupun anak autism harus mengikuti terapi untuk mengembangkan kemampuannya yang tertinggal, namun terapi bukan mukzijat. Artinya tidak dapat dipastikan bila marah-marah atau bahkan memukulnya hanya akan membuat anak bertambah agresif atau marah, selain itu membuat anak tidak akan mengontrol emosinya.
   Anak autism sering bermasalah dengan ketidakmampuannya mengontrol ekspresi emosi. Ia bisa langsung meledak maka jika merasa terganggu. Ia juga akan berteriak, bergulin di lantai, melempar benda, bahkan menyakiti diri sendiri, seperti menggigit tangan atau membenturkan kepala ke tembok. Anak harus diajarkan secara intensif agarekspresi dari emosi negatifnya dapat berkurang. Caranya, ajak anak merasakan emosi yang ada. Untuk itu ia harus mampu menutup dirinya. Dengan begitu, meski ekspresi mukanya terlihat kosong, dalam dirinya tengah berproses untuk belajar mengenali emosinya.
   Belajar memahami emosinya juga bisa didapat dengan cara yang konkret, misalnya saat ia tertawa gembira, didekati dan katakan, "Oh, kamu sedang senang ya?" Begitu pula saat ia menangis,"Kamulagi sedih ya karena mainanmu direbut?". Cara lain, perkenalkan berbagai ekspresi manusia. Gunakan foto yang diperlihatkan orang yang sedang marah,tertawa, sedih, kaget, dsb. Dengan melabel emosi-emosi tadi, lama-kelamaan ia akan memahami berbagai jenis emosi.
   Ajarkan anak bagaimana mengekspresikan emosinya dengan benar. Latih anak mengontrol emosi negatifnya melalui tutur kata yang lembut. Terapkan pelajaran ini berulang ulang pada setiap kesempatan. Dengan begitu ia akan belajar bahwa ia boleh marah tapi tidak dengan memukul. Segera pegang tangannya jika ia mulai melempari barang agar ia pahan perbuatanya itu tidak boleh dilakukannya.





Nakita. (2002). Menangani Anak Autism. Jakarta: Gramedia.

Penanganan Anak Autism

   Mengingat bahwa penyebab pasti autism belum diketahui dan sifatnya yang sangat individu maka penanganan anak autism tidak diarahkan untuk "menumpas" sumber masalah. Penanganan anak autism ditujukan untuk "mengejar" keterlambatan perkembangan yang dialaminya, agar sesuai dengan perkembangan anak-anak lain seusianya.
   Deteksi dan Intervensi Dini pada anak autism memang sangat penting. Semakin cepat anak diketahui menyangdang autism dan semakin cepat berbagai upaya yang tepat dilakukan akan membantu perkembangan anak. Keterlambatan intervensi atau penanganan akan membuat anak memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mengejar ketertinggalannya.
   Usia balita merupakan saat paling tepat memberikan penanganan pada kasus anak autism karena masa balita adalah masa awal untuk mempelajari sesuatu. Dengan Intervensi diri secara intensif dan optimal, diharapkan anak bisa memperoleh manfaat terbesar dari penanganan yang dilakukan. Penanganan anak autism biasanya berbentuk terapi.
   Selain itu, anak-anak di bawah usia 3 tahun masih memiliki otak yang bersifat plastis. Sel-sel otak berkembang sedemikian pesat sehingga ketika ada gangguan pada salah satu bagian diharapkan masih dapat tergantikan dengan sel-sel baru. Walaupun masih terus diteliti, namun diyakini bahwa anak penyandang autism memiliki gangguan pada bagian otaknya. Sisinilah terapi berperan sebagai stimulasibagi perkembangan fungsi sel-sel otak tersebut.






Nakita. (2002). Menangani Anak Autism. Jakarta: Gramedia.

Karakteristik Anak Autism

   Karakteristik anak penyandang autism yang mungkin teerlihat dalam observasi perilaku anak sehari-hari di dalam kelas, antara lain adalah sebagai berikut :
a.    adanya perkembangan yang terlambat dibandingkan dengan anak-anak seusianya, baik secara motorik,  bahasa maupun dalam interaksi sosial.
b.   anak autism lebih tertarik pada benda dibandingkan dengan manusia
c.   mereka tidak mau dipeluk atau diperlakukan dengan kehangatan oleh gurunya.
d.   mereka memiliki kelainan sensoris misalnya tidak peka terhadap rasa sakit atau malah sangat terganggu dengan suara radio normal.
e.   mereka menunjukkan adanya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Mereka dapat dalam waktu lama terokupasi pada suatu kegiatan tertentu, misalnya selalu menyala-matikan lampu kelas, atau bergerak tidak wajar, misalnya berputar-putar tanpa merasa pusing.






Barkell, D. E. (1992). Autism: Identification, Education and Treatment. New Jersey: Laurence Erlbaum Associates, Inc.

Diagnosis Autism

       Untuk melakukan diagnosis autism, para ahli di dunia mendasasrkan diri pada kriteria autistic disorder yang tercantum dalam DSM-IV TR 2000 (Diagnostic and Statistical Manual) yang dikeluarkan oleh The American Psychiatric Association (APA). DSM IV ini memuat 3 bidang impairment (kerusakan/kesulitan) utama yang ada pada anak autism, yaitu impairment dalam interaksi sosial, impairment dalam komunikasi, serta munculnya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-ulang (stereotyped & repetitive) dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Ke-3 bidang impairment ini dijabarkan dalam 12 kriteria. Seorang penyandang autism minimal 6 gejala/perilaku dari 12 perilaku yang menjadi ciri-ciri autism.





Budhiman, M., Dr, DSJ. (1997). Pentingnya Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan Terpadu pada Autism. Simposium Autism pada Masa Kanak. Jakarta: Yayasan Autisma Indonesia




Senin, 21 Oktober 2013

Pengertian Autism

      Istilah autism diperkenalkan pertama kali pada tahun 1943 oleh Dr. Leo Kanner, seorang psikater anak dari Universitas Johns Hopkins. Autism menurut Kanner(1943 dalam papernya Autistic Dsturbance of Affective Contact) adalah sebagai berikut.
      inabilitty to relate themseves in the ordinary way to people and situations from the beginning of live (kuwara-2002 dalam www.faculty washington.edu.
      Kanner menyatakan bahwa pada sekelompok anak yang ditelitinya  terlihat adanya suatu gangguan mendasar dimana anak-anak tersebut sejak awal kehidupan tidak mampu melakukan interaksi sosial terhadap orang lain atau situasi tertentu seperti halnya anak-anak normal (Neale,1996). Selain itu, ditemukan pula adanya kegagalan dalam membangun kemampuan berkomunikasi atau terjadinya keterbatasan dalam berbahasa. Gejala lainnya adalah terjadinya penolakan dan perubahan yaitu munculnya keinginan yang kuat untuk mempertahankan lingkungan sekitar tetap sama. Anak juga menunjukkan perilaku preokupasi pada aktivitas stereotip yang berulang. Ciri-ciri tersebut oleh Kanner dikelompokkan sebagai gejala-gejala utama autism (dalam Wenar, 1994)
      Gejala-gejala autism biasanya muncul sebelum anak mencapai usia 3 tahun dan pada sebagian anak gejalanya sudah ada sejak lahir. Sebagian kecil penyandang autism sempat berkembang normal, namun sebelum usianya 3 tahun perkembangannya menjadi terhenti, kemudian timbul kemunduran dan tampak gejala autism (Berkel, 1992).
        Berdasarkan pendapat kedua tokoh tersebut autism dapat dikatakan sebagai suatu gangguan perkembangan yang muncul di awal kehidupan seorang anak (biasanya tampak pada masa infancy dan toddlehood) yang ditandai dengan ketidakmampuan anak untuk berhubungan dengan orang lain. adanya masalah dalam hal berkomunikasi, dan muncul kebutuhan untuk melakukan aktivitas yang sama dan berulang.







Aarons, M., & Gitten, T. (1994). The Handbook of Autism: A Guide for Parent and Proffesionals. New York: Routledge.

Halaman

JAM

 

© 2013 Autistic Journey. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top